Kamus Mahasiswa Logo
Beranda/Inspirasi/Putra Bali Raih IPK 4,00, Lulus Doktor UGM dalam Waktu 2 Tahun 10 Bulan
Inspirasi

Putra Bali Raih IPK 4,00, Lulus Doktor UGM dalam Waktu 2 Tahun 10 Bulan

Keterbatasan jarak maupun kondisi ekonomi tidak menghalangi I Made Sarmita untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor.

By Agnes Yonatan (Penulis Utama)26 Agustus 20263 Menit Baca99 Dilihat0 Komentar
Putra Bali Raih IPK 4,00, Lulus Doktor UGM dalam Waktu 2 Tahun 10 Bulan

Keterbatasan jarak maupun kondisi ekonomi tidak menghalangi I Made Sarmita untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor. Pria asal Kabupaten Badung, Bali, tersebut berhasil menjadi salah satu wisudawan terbaik Program Doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan meraih IPK sempurna, 4,00.

Menariknya, Made mampu menuntaskan Program Studi Doktor Kependudukan di Sekolah Pascasarjana UGM dalam waktu 2 tahun 10 bulan. Durasi tersebut lebih singkat dibandingkan masa pendidikan doktor yang umumnya ditempuh selama empat tahun.

Made mengaku tidak menyangka dapat meraih predikat tersebut. Menurutnya, capaian itu merupakan hasil dari kesungguhan yang dijalani selama proses pendidikan, ditambah doa serta dukungan dari berbagai pihak.

“Teriring dengan doa dan dukungan semua pihak, baik keluarga, dosen promotor dan ko-promotor, serta kolega yang lain,” ujar Made seperti dikutip dari laman UGM.

Baca Juga: Lulus IPK 4,00, Mahasiswi UGM Temukan Potensi UVB Sebagai Pengganti Pestisida untuk Lawan Penyakit Melon

Menekuni Bidang Kependudukan Sejak Pendidikan S1

Perjalanan pendidikan Made bermula di Bali. Pada 2006 hingga 2010, ia menempuh pendidikan S1 Pendidikan Geografi di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Bali.

Ketertarikannya terhadap isu kependudukan kemudian membawanya melanjutkan studi ke Yogyakarta. Ia memilih UGM untuk menempuh pendidikan magister, sebelum akhirnya meneruskan ke jenjang doktor pada bidang yang sama.

Made menjelaskan, keputusan mengambil S3 Kependudukan didasarkan pada kesinambungan bidang studi yang telah ditempuh sebelumnya.

“Saya memilih S3 Kependudukan karena linier dengan S2 saya sebelumnya, dan juga masih linier dengan studi S1,” jelasnya.

Selama menjalani pendidikan doktor, Made juga mendapatkan beasiswa. Namun, proses untuk memperoleh kepastian beasiswa tersebut sempat membuatnya merasa khawatir sebelum akhirnya berhasil mendapatkannya.

Peran Dosen Pembimbing dalam Mempercepat Studi

Salah satu faktor yang menurut Made berperan besar dalam penyelesaian studinya adalah dukungan dari dosen pembimbing. Promotor dan ko-promotor disebutnya aktif memantau perkembangan penelitian serta rutin berkomunikasi selama proses studi.

Bagi Made, perhatian tersebut membuat dirinya terus terdorong untuk menjaga progres penelitian.

“Promotor dan ko-promotor selalu memantau, berkomunikasi secara aktif, dan selalu menanyakan progress research. Merasa dikejar-kejar, tetapi memang hasilnya untuk kebaikan saya dan juga prodi,” ungkapnya.

Selain mengandalkan arahan dosen, Made juga menyiapkan rencana penelitian sejak awal. Ia menyarankan mahasiswa yang ingin menempuh pendidikan doktor agar sudah memiliki gambaran riset sebelum resmi memulai perkuliahan.

Menurutnya, mahasiswa juga perlu berani mengambil langkah lebih awal dalam ujian komprehensif agar memperoleh masukan yang dapat mendukung proses publikasi jurnal.

Made turut menyarankan agar calon mahasiswa mempertimbangkan calon promotor dan ko-promotor yang memiliki keahlian sesuai dengan rencana riset. Kesibukan, pola komunikasi, serta karakter calon pembimbing juga dinilai penting untuk dipertimbangkan.

Menjalani Proses dengan Fokus dan Sungguh-sungguh

Di balik pencapaian IPK 4,00, Made mengaku tidak memiliki strategi belajar khusus. Ia hanya berusaha tetap fokus dan menyelesaikan setiap tugas dengan sungguh-sungguh.

Menurutnya, keseriusan dalam menjalani setiap tahapan pendidikan akan membantu menghasilkan capaian yang baik. Namun, usaha tersebut juga perlu disertai doa dan tawakal.

“Kita perlu mengikuti dan menikmati proses, mengerjakan semampunya, dan menyerahkan hasil pada Yang Kuasa,” pesannya.

Baca Juga: Dari Limbah Menjadi Karya, Dosen Unesa Olah Daun Nanas Jadi Tekstil Ramah Lingkungan

A

Penulis: Agnes Yonatan (Penulis Utama)

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Referensi Terkait

1 Juta Lebih Sarjana Menganggur, Pakar Ungkap Masalahnya Bukan Sekadar Kompetensi
Nasional

1 Juta Lebih Sarjana Menganggur, Pakar Ungkap Masalahnya Bukan Sekadar Kompetensi

Jumlah pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih menjadi perhatian.

13 jam lalu40 views
Pernah Jadi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Yuda Kini Lulusan Terbaik UIN Walisongo
Inspirasi

Pernah Jadi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Yuda Kini Lulusan Terbaik UIN Walisongo

Yuda Agustian berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik fakultas dengan IPK 3,94.

13 jam lalu42 views
Kabut Asap Karhutla Ganggu Kualitas Udara, Sekolah di Riau Bisa Terapkan PJJ
Nasional

Kabut Asap Karhutla Ganggu Kualitas Udara, Sekolah di Riau Bisa Terapkan PJJ

Pemerintah Provinsi Riau menerbitkan Surat Edaran (SE) yang memungkinkan sekolah menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

13 jam lalu30 views
UIN Palangka Raya Kembangkan Drone AI untuk Deteksi Karhutla dari Bawah Tanah
Inspirasi

UIN Palangka Raya Kembangkan Drone AI untuk Deteksi Karhutla dari Bawah Tanah

Teknologi ini dirancang untuk menemukan titik rawan kebakaran lebih cepat di lahan gambut Kalimantan.

2 hari lalu152 views