Maba UM Wajib Bawa Lidah Mertua saat PPKMB 2026, Ini Alasan di Baliknya
Bukan sekadar syarat orientasi, tanaman ini menjadi bagian dari kampanye penghijauan dan edukasi keberlanjutan di Universitas Negeri Malang.

Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan pendekatan berbeda dalam pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PPKMB) 2026. Selain mengikuti rangkaian kegiatan orientasi, seluruh mahasiswa baru diminta membawa satu tanaman lidah mertua sebagai bagian dari gerakan penghijauan kampus.
Kebijakan tersebut merupakan bagian dari kampanye Green Campus yang diusung UM untuk memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Tanaman lidah mertua dipilih bukan tanpa alasan. Ketua Green Campus UM, Prof. Sumarmi, menjelaskan bahwa tanaman ini memiliki kemampuan menyerap berbagai polutan di udara sekaligus menghasilkan oksigen, sehingga dapat membantu menciptakan lingkungan kampus yang lebih sehat dan nyaman.
Selain efektif menyaring udara, lidah mertua atau Sansevieria juga dikenal mampu menyerap sejumlah senyawa berbahaya, seperti formaldehida, benzena, xilena, hingga trikloretilena. Tanaman ini juga tergolong mudah dirawat dan mampu bertahan di berbagai kondisi lingkungan, sehingga dinilai cocok untuk ditanam di area kampus.
Program tersebut akan diterapkan dalam PPKMB UM yang dijadwalkan berlangsung pada 10–14 Agustus 2026. Melalui kegiatan ini, universitas ingin memperkenalkan konsep pembangunan berkelanjutan kepada mahasiswa baru, tidak hanya sebagai materi pembelajaran di kelas, tetapi juga sebagai nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aksi membawa tanaman menjadi simbol keterlibatan mahasiswa dalam menjaga kelestarian lingkungan sejak awal masa perkuliahan. Penanaman lidah mertua diharapkan dapat memperkuat ruang hijau kampus, meningkatkan kualitas udara, sekaligus menghadirkan suasana belajar yang lebih sehat bagi seluruh sivitas akademika.
Lebih dari itu, UM juga ingin memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa baru mengenai pentingnya solusi berbasis alam dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pencemaran udara. Langkah sederhana tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik.
Prof. Sumarmi berharap semangat kepedulian terhadap lingkungan dapat terus dibawa oleh mahasiswa selama menempuh pendidikan di UM. Ia mengajak mahasiswa baru untuk menjadi "donatur oksigen" melalui aksi sederhana menanam dan merawat tanaman, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh warga kampus, tetapi juga masyarakat di sekitarnya.
Baca Juga: 10 PTKIN dengan Jumlah Jurnal Terindeks Scopus Terbanyak, UIN Bandung Pimpin Peringkat
Penulis: Agnes Yonatan (Penulis Utama)
Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.
Komentar Pengunjung (1)
test
Referensi Terkait

1 Juta Lebih Sarjana Menganggur, Pakar Ungkap Masalahnya Bukan Sekadar Kompetensi
Jumlah pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih menjadi perhatian.

Pernah Jadi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Yuda Kini Lulusan Terbaik UIN Walisongo
Yuda Agustian berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik fakultas dengan IPK 3,94.

Kabut Asap Karhutla Ganggu Kualitas Udara, Sekolah di Riau Bisa Terapkan PJJ
Pemerintah Provinsi Riau menerbitkan Surat Edaran (SE) yang memungkinkan sekolah menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

UIN Palangka Raya Kembangkan Drone AI untuk Deteksi Karhutla dari Bawah Tanah
Teknologi ini dirancang untuk menemukan titik rawan kebakaran lebih cepat di lahan gambut Kalimantan.

