Kamus Mahasiswa Logo
Beranda/Edukasi/Gangguan Kecemasan Anak Meningkat, Peneliti Ungkap Penyebabnya: Dari Individualisme hingga Turunnya Religiusitas
Edukasi

Gangguan Kecemasan Anak Meningkat, Peneliti Ungkap Penyebabnya: Dari Individualisme hingga Turunnya Religiusitas

Gangguan kecemasan di kalangan anak-anak dan remaja dilaporkan semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan teka

By Widiyanto26 Agustus 20263 Menit Baca546 Dilihat0 Komentar
Gangguan Kecemasan Anak Meningkat, Peneliti Ungkap Penyebabnya: Dari Individualisme hingga Turunnya Religiusitas

Gangguan kecemasan di kalangan anak-anak dan remaja dilaporkan semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini tidak hanya berkaitan dengan tekanan akademik atau perkembangan teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan nilai-nilai sosial dalam pendidikan dan kehidupan keluarga.

Penelitian terbaru dari Pusat Penelitian dan Pengobatan Kesehatan Mental (FBZ) di Universitas Ruhr Bochum, Jerman, mengungkap bahwa perubahan harapan masyarakat terhadap anak serta menurunnya peran religiusitas memiliki kaitan erat dengan kondisi tersebut.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Developmental Science Volume 29 Issue 3 pada 11 Februari 2026 berjudul "Global Cultural Change and Anxiety in Children and Adolescents: Analyzing Specialization Goals Over Three Decades in 70 Countries" menganalisis data dari 70 negara di berbagai benua.

Penelitian ini mengamati perkembangan selama lebih dari tiga dekade, yakni dari 1989 hingga 2022. Para ilmuwan menggunakan data kesehatan global untuk melihat prevalensi gangguan kecemasan pada anak kecil, anak-anak, hingga remaja.

Baca juga: Universitas Brawijaya Dipercaya UNESCO Terjemahkan Laporan Air Dunia 2026, Yang Diluncurkan di Paris

Selain itu, data budaya dari World Values Survey turut menjadi dasar analisis. Jaringan penelitian ini dikenal luas dalam mengkaji perubahan nilai sosial dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

"Standar sosial tentang bagaimana anak-anak seharusnya berperilaku telah berubah secara signifikan di seluruh dunia dari waktu ke waktu," kata penulis utama studi tersebut, Leonard Kulisch, dikutip dari Phys.org.

"Karena itu, kami ingin mengetahui apakah pola harapan yang berubah ini berkorelasi dengan peningkatan gangguan kecemasan," imbuhnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat religiusitas yang menurun cenderung mengalami peningkatan gangguan kecemasan yang lebih tinggi.

Studi tersebut juga menyoroti perubahan nilai dalam pendidikan, khususnya di negara-negara Barat. Jika sebelumnya kepatuhan menjadi nilai utama dalam pengasuhan, kini fokus beralih pada kemandirian dan individualitas anak.

Perubahan ini dinilai membawa dampak ganda. Di satu sisi, kemandirian dan kreativitas penting dalam mendorong inovasi. Namun di sisi lain, tekanan untuk menjadi individu yang mandiri dan sukses justru dapat memicu kecemasan.

Analisis menunjukkan bahwa pergeseran perspektif ini berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan psikologis pada anak-anak dan remaja.

Baca juga: 10 Negara Dengan IQ Tertinggi Di Dunia 2026, Iran 5 Besar dan Ada 2 Negara Tetangga Indonesia

Penurunan religiusitas dalam pengasuhan anak disebut sebagai salah satu faktor risiko paling signifikan terhadap gangguan kecemasan. Hal ini dikaitkan dengan hilangnya rasa kebersamaan dan panduan hidup yang sebelumnya banyak diberikan oleh nilai-nilai agama.

Menurut Kulisch, kondisi ini dapat menciptakan kekosongan dalam kehidupan sosial anak dan keluarga.

"Individualitas dan kemandirian bermanfaat dalam sistem ekonomi yang ada untuk tetap kompetitif dan mendorong inovasi," kata Kulisch.

"Namun di negara-negara Barat, nilai-nilai ini telah melampaui ambang batas yang sehat," imbuhnya.

Ia juga menambahkan bahwa keluarga menjadi lebih rentan terhadap kesepian, jaringan sosial yang melemah, serta hilangnya rutinitas yang stabil dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai solusi, para peneliti menekankan pentingnya membangun kembali rasa kebersamaan melalui cara alternatif. Aktivitas sosial dinilai mampu menjadi faktor pelindung bagi kesehatan mental anak.

"Aktivitas di klub dan kelompok, serta keterlibatan dalam kegiatan sipil dapat menjadi faktor penting dalam menangkal perkembangan gangguan kecemasan," ujarnya.

Selain itu, lembaga pendidikan seperti sekolah dan pusat penitipan anak diharapkan dapat berperan aktif dalam membangun lingkungan yang mendukung interaksi sosial dan rasa komunal di antara anak-anak dan remaja.

W

Penulis: Widiyanto

Tim redaksi & kontributor Kamus Mahasiswa. Berkomitmen menyajikan informasi terpercaya seputar beasiswa, tips akademik, dan dunia mahasiswa Indonesia.

Komentar Pengunjung (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Referensi Terkait

1 Juta Lebih Sarjana Menganggur, Pakar Ungkap Masalahnya Bukan Sekadar Kompetensi
Nasional

1 Juta Lebih Sarjana Menganggur, Pakar Ungkap Masalahnya Bukan Sekadar Kompetensi

Jumlah pengangguran dari kalangan lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih menjadi perhatian.

13 jam lalu40 views
Pernah Jadi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Yuda Kini Lulusan Terbaik UIN Walisongo
Inspirasi

Pernah Jadi Barista hingga Bersihkan Rumah Dosen, Yuda Kini Lulusan Terbaik UIN Walisongo

Yuda Agustian berhasil meraih predikat sebagai lulusan terbaik fakultas dengan IPK 3,94.

13 jam lalu42 views
Kabut Asap Karhutla Ganggu Kualitas Udara, Sekolah di Riau Bisa Terapkan PJJ
Nasional

Kabut Asap Karhutla Ganggu Kualitas Udara, Sekolah di Riau Bisa Terapkan PJJ

Pemerintah Provinsi Riau menerbitkan Surat Edaran (SE) yang memungkinkan sekolah menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.

13 jam lalu32 views
UIN Palangka Raya Kembangkan Drone AI untuk Deteksi Karhutla dari Bawah Tanah
Inspirasi

UIN Palangka Raya Kembangkan Drone AI untuk Deteksi Karhutla dari Bawah Tanah

Teknologi ini dirancang untuk menemukan titik rawan kebakaran lebih cepat di lahan gambut Kalimantan.

2 hari lalu154 views